Minggu, 30 Maret 2014

Fikrah

Islam, Iman, dan Ihsan
Representasi Pemikiran Islam, Pondasi Peradaban Madani[i]

Umar bin Khatab r.a meriwayatkan, bahwa suatu hari rasulullah s.a.w didatangi seorang lelaki asing, ia bertanya kepada rasulullah tentang makna islam, iman, dan ihsan. Setelah lelaki tersebut pergi, rasulullah bertanya:
 “wahai Umar, tahukah engkau siapa lelaki tadi?”
“Allah dan rasul Nya lebih mengetahui.” Jawab Umar.
“Ia adalah Jibril yang datang untuk mengajari kalian ilmu agama.” Terang rasulullah s.a.w.[ii]
Islam, iman, dan ihsan adalah representasi dari pemikiran islam, sebuah pemikiran yang melatarbelakangi lahirnya peradaban madani. Jika islam dimaknai sebagai hukum, maka iman adalah ushul din, dan ihsan adalah tashawuf. Dengan begitu, islam bukanlah agama dikotomis yang hanya memperhatikan aspek ruhiyah dan ibadah, atau sisi dzahir yang hanya berbicara tentang eksekusi dan produk-produk hukum. Melainkan ia adalah sistem  yang meliputi segala aspek kehidupan kemasyarakatan, ekonomi, ilmu, dll dengan pondasi aqidah, syari’ah dan akhlaq. Dengan kata lain: islam adalah kehidupan.
   Dalam sebuah riwayat, rasulullah s.a.w bersabda, “sesungguhnya perumpamaanku dan para nabi yang diutus Allah sebelumku adalah seperti seorang yang membangun rumah, kemudian ia memperindah dan menyempurnakannya kecuali ada satu tempat batu bata, sehingga orang-orang mengelilinginya dan bergumam, “Aduhai indahnya, seandainya saja batu bata ini disempurnakan.” Maka rasulullah berkata, “akulah batu bata terakhir itu, dan akulah penutup para nabi.”[iii]