Islam, Iman, dan Ihsan
Representasi Pemikiran Islam, Pondasi
Peradaban Madani[i]
Umar bin Khatab r.a meriwayatkan, bahwa suatu hari
rasulullah s.a.w didatangi seorang lelaki asing, ia bertanya kepada rasulullah
tentang makna islam, iman, dan ihsan. Setelah lelaki tersebut pergi, rasulullah
bertanya:
“wahai Umar, tahukah engkau siapa lelaki
tadi?”
“Allah dan
rasul Nya lebih mengetahui.” Jawab Umar.
“Ia adalah
Jibril yang datang untuk mengajari kalian ilmu agama.” Terang rasulullah s.a.w.[ii]
Islam, iman, dan ihsan adalah representasi dari
pemikiran islam, sebuah pemikiran yang melatarbelakangi lahirnya peradaban
madani. Jika islam dimaknai sebagai hukum, maka iman adalah ushul din, dan
ihsan adalah tashawuf. Dengan begitu, islam bukanlah agama dikotomis yang hanya
memperhatikan aspek ruhiyah dan ibadah, atau sisi dzahir yang hanya berbicara tentang
eksekusi dan produk-produk hukum. Melainkan ia adalah sistem yang meliputi segala aspek kehidupan
kemasyarakatan, ekonomi, ilmu, dll dengan pondasi aqidah, syari’ah dan akhlaq.
Dengan kata lain: islam adalah kehidupan.
Dalam
sebuah riwayat, rasulullah s.a.w bersabda, “sesungguhnya perumpamaanku dan para
nabi yang diutus Allah sebelumku adalah seperti seorang yang membangun rumah,
kemudian ia memperindah dan menyempurnakannya kecuali ada satu tempat batu
bata, sehingga orang-orang mengelilinginya dan bergumam, “Aduhai indahnya,
seandainya saja batu bata ini disempurnakan.” Maka rasulullah berkata, “akulah
batu bata terakhir itu, dan akulah penutup para nabi.”[iii]